Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

1.jpg

Pemandangan adem. Oleh Riccardo Bresciani

Gue suka mempelajari manusia dan pemikirannya. Melihat laku, keputusan, apalagi sesuatu yang ngga biasa dari orang di sekitar gue, baik teman maupun stranger. Ketika baca artikel tentang bunuh diri, gue pun jadi banyak memikirkan hal itu. Kenapa sih orang bisa terpikir untuk bunuh diri? Kenapa sebagian orang lainnya (seperti gue) ngga sampe berpikir kesana? Apa mungkin masalah gue ngga sebesar mereka?

Empati

Bicara masalah, semua orang pasti punya. Sebagian mungkin aja punya masalah yang lebih besar daripada sebagian lainnya. Keluarga, keuangan, kuliah, hubungan, bisa apa aja. Dan uda ngga jaman menyelesaikan masalah sosial dengan langsung cari solusi. Dulu gue juga gitu, melihat ada anak sekolah mengeluh di media sosial tentang putus cinta, ”meh, masih ingusan aja ngomong cinta, belajar yang bener sana”. Kayanya bukan hanya masalah sosial aja malah, masalah teknis juga harus diawali dengan mengerti dan memahami. Empati kata kunci yang penting banget. Kita bukan sekedar membayangkan ada di posisi mereka dan mengambil keputusan berbeda. Sering kan kita dengar, ”Kalo gue jadi dia sih gue ngga akan kaya gitu”. Tapi butuh juga diresapi.

Sehingga kata-kata saran yang keluar dari kita bukan lagi, ”makanya jangan gini”, atau ”udah deh, gausa disedihin banget”, tapi lebih ke ”gimana kalo besok kita ke bukit dan nyanyi lagu 90-an?”

Mengajak. Merangkul. Mendengarkan dengan seksama. Terdengar seperti klise yang udah semua orang mengerti. Tapi ngga mudah melakukannya, lho. Misalnya kalau orangnya ngga kita suka. Atau yang lebih rumit, ketika orangnya ngga disukai semua orang. Kadang gue lupa juga sih, kalau kita manusia itu juga punya tanggung jawab menjaga memperhatikan satu sama lain. Kalau ngga ada yang mau bantu dia, siapa dong yang bantu? Kalau tiap dia mau ngomong, disela atau dihujat orang lain, gimana dong kita mau mengetahui kalau sebenarnya dia ada masalah?

Eksponen

Kadang bahagia atau sedih itu bisa eksponensial. Hal menyenangkan bikin kita bahagia, lalu bikin performa baik, dapat pujian, bikin kita bahagia lagi, dan seterusnya. Sedih juga bisa gitu. Ada masalah, bikin kita sedih, performa kerja atau kuliah menurun, yang menjadi masalah lainnya, dan seterusnya. Gue alhamdulillah dikelilingi teman-teman yang lumayan menghibur, ada keluarga juga dari jauh yang memberi perhatian. Tapi pasti ada juga disekitar kita yang ngga punya keduanya. Atau ada juga merasa sendiri di keramaian. Kaya lagu ya, tapi bener ko. Semua orang juga mungkin pernah ngerasa gitu.

Solusi pengobatan

Ada beberapa solusi yang bisa gue pikirin tentang masalah ini. Pertama, solusi pengobatan. Kalo kita pasiennya, ada baiknya juga ”pergi ke dokter”. Psikiater bukan sih bahasanya? (sering ketuker sama psikolog). Beberapa hari kemaren gue ngobrol sama dua temen bule di kesempatan berbeda, dan mereka sama pendapat bahwa ke psikiater itu enak. Selain karena merasa didengarkan, si ”dokter” juga lebih membantu kita mengerti diri kita sendiri, berbanding ngasih saran kita harus ini harus gitu, kata temen gue. Nah poin lagi nih, tentang mengerti diri sendiri. Self-conflict atau konflik dalam diri gitu kali ya. Kadang ada dan kita sadar tapi kita ngga tau harus gimana. Kadang ada tapi kita ngga sadar.

Perlu di highlight juga perbedaan budaya bule dan budaya kita tentang pergi ke psikiater. Di lingkungan bule itu setara sama pergi ke dokter. Semua orang bisa sakit dan wajar pergi ke ”dokter”. Di kita itu terasa seperti jalan terakhir kalau kita udah sakit jiwa akut.

1.jpg

Dokter kucing

Selain ke psikiater, solusi pengobatannya menurut gue bisa juga dengan cerita ke seseorang yang kita percaya. Seperti kita tau, bercerita kadang bisa mengurangi beban yang kita rasa. Atau kalau bercerita ke orang dekat bikin kita takut rahasia terbongkar, bisa cerita sama stranger. Bisa lebih plong ceritanya karena tau orang itu ngga berkaitan sama sekali sama kita dan akan hilang dalam beberapa hari. Banyak pendekatan yang bisa dipake. Orang di kereta atau sesama traveler ketika ke suatu tempat baru. Tentunya diawali dengan pembukaan yang baik juga, biar ngga aneh. Atau kalau malu cerita secara langsung, internet bisa banget dipake. 9gag.com yang harusnya jadi situs lelucon, terkadang ada orang yang cerita masalahnya dan pengguna lain bareng-bareng bantuin dia.

Solusi pencegahan: sudut pandang baru

Selain solusi pengobatan, ada juga solusi pencegahan: mencoba sudut pandang baru. Ada tiga poin yang gue catat. Pertama, melihat masalah bukan sebagai hal buruk. Tapi sebagai pelajaran. Analoginya seperti olahraga ke gym. Dimana orang yang ga suka olahraga akan bilang, ”eh ngapain sih kesana dan berlelah-lelah”. Lelahnya, pegalnya, beratnya itu gue anggap sebagai masalah. Tapi setelahnya, kita jadi lebih bugar, sehat, badan jadi bagus, bahkan riset membuktikan orang yang olahraga itu lebih bahagia. Jadi masalah disini, bukan sesuatu yang buruk tapi latihan buat kita.

Sudut pandang lain nomor dua adalah: berani salah, berani gagal, berani kotor. Pasti pernah dong liat iklan pembersih pakaian yang bilang, ”ngga kotor, ngga belajar”. Bisa diambil tuh pelajarannya. Kita semua tau salah itu wajar dan manusia bisa banget salah. Tapi ngga semua orang berani salah. Masih banyak yang cari aman. Walaupun cari aman itu juga baik sih, tapi sesekali menurut gue, seru untuk mencoba berani salah. Misalnya, didalam kelas ketika guru bertanya. Dulu gue sering tau jawabannya tapi malu untuk tunjuk tangan dan jawab. Padahal kalo gue tunjuk tangan dan jawab, gue akan dapet dua kemungkinan, jawaban bener, atau gue jadi belajar bicara di depan umum dan tau dimana kesalahan gue. Jadi kesalahan itu wajar dan yang paling penting adalah gimana kita setelah melakukan kesalahan itu.

Sudut pandang ketiga adalah tidak menjadi perfeksionis. Tidak orientasi hasil, tapi lebih ke orientasi proses. Analogi favorit gue adalah sepakbola. Karena gue sendiri main dan suka nonton bola. Walaupun tim gue kalah, tapi kalau gue udah lari-lari dan mencoba memberi umpan bagus dan mencoba menendang bola ke gawang lawan, gue udah seneng banget. Rasanya puas dan itu udah cukup. Nonton juga sama. Mendingan gue nonton pertandingan yang hasil akhirnya 1-1 tapi serang-serangan terus daripada tim kesukaan gue menang 5-0 dan lawan ga berkutik. Poin gue adalah, usaha aja yang maksimal, abis itu embrace dan rayakan perjuangan kita. Nah ini masih jarang dilakukan orang nih. Menghukum (diri sendiri atau orang lain) ketika salah, tapi tidak memuji atau merayakan (diri sendiri atau orang lain) ketika sudah berjuang dengan baik.

1.jpg

Ketiga sudut pandang ini bisa juga dilakukan sekaligus. Dan namanya juga mencoba sudut pandang baru, kalau ngga cocok, bisa pake yang lama lagi. Yang penting udah berusaha dan udah mencoba, kan?

Iklan

2 pemikiran pada “Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

  1. Oh, I like this topic. Lemme add another point of view: Bagi orang yang pernah punya pikiran untuk bunuh diri, mengingat Tuhan ngga selalu bisa jadi solusi. Apalagi dengan lagak sok suci bilang kalo Tuhan bakal ngejeblosin lo ke neraka kalo bunuh diri. Salah2 bisa jadi mikir: Gila apa, kemana Tuhan yang Maha Baik itu saat gue dalam masalah dan gaada seorangpun yang peduli? Sekarang giliran gue milih mo mati aja, Dia ngancem pake neraka. Maunya apa?

    Kadang, yang dibutuhin bukan ceramah agama. Tapi tempat yang aman, buat jadi manusia.

  2. iya bener tuh. apalagi jaman sekarang peran agama tuh berkurang. misalnya orang beragama tapi ribut di sosmed atau malah soal politik berbanding dengan yang damai adem dan menyebar cinta.

    thank you mir komennya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s