Abis Nonton The Vvitch

1.jpg

Poster nya The Vvitch

Pertama-tama, walaupun judulnya kaya abis nonton film, tapi tulisan ini bukan ulasan film seperti yang biasa gue buat. Melainkan refleksi pendek aja atas apa yang gue liat didalam film itu. Lo pasti pernah kan, melihat atau mengalami sesuatu di jalan, disekitaran lo, kemudian mikir agak dalam tentang apa yang lo liat atau alami. Nah gue mau ceritain yang gue lagi rasa sekarang nih abis nonton The Vvitch. (Iya emang judulnya alay gitu).

Gue baru aja nonton The Vvitch. Sori spoiler nih. Film horror ini ceritanya tentang keluarga dengan empat anak di desa sekitaran Inggris jaman dulu. Si bapak di keluarga itu termasuk kristen yang religius banget, malahan dia merasa kristennya penduduk desa itu bukan kristen yang benar, ya terang aja, dia dan keluarganya pun diusir dari desa. Tapi dia ngga keberatan, karena dia meyakini, kalau kristennya dia lah yang benar. Dia dan keluarganya tinggal di gubug kecil di suatu ladang yang berjarak satu hari perjalanan dari desa tadi. Tidur ala kadarnya. Beternak dan sedikit menanam jagung, berusaha bertahan hidup. Konfliknya mulai ketika anak bungsu mereka yang masih bayi hilang (diculik seseorang misterius) ketika sedang bermain dengan anak sulungnya. Lalu ladang jagung kecil nya tercemar dan gagal panen. Mereka kesulitan untuk makan. Si suami istri berbicara dan berpikir akan mempekerjakan anak pertama dan kedua mereka di desa sebagai jalan keluar. Anak keduanya (cowo) yang denger pembicaraan itu, memutuskan untuk kehutan dan mencoba berburu. Bukannya dapat sesuatu, dia malah hilang. Ketika ditemukan, dia kesurupan dan kemudian meninggal. Karena tekanan ekonomi dan kepercayaan mereka akan ’the witch’ di hutan, mereka pun saling tuduh kalau salah satu dari mereka dikutuk dan udah bertransaksi dengan iblis. Ibunya sampai setengah gila. Sampai satu persatu mati dan tersisa si anak sulung (cewe).

Miris deh filmnya. Sambil duduk merenung dan ngobrol sama Uci, gue pun terpikir: dalam kondisi seperti mereka, mungkin semua orang juga akan mengalami kegilaan yang sama. Termasuk gue. Dan di Indonesia banyak ga ya keluarga dengan keadaan seperti itu? Gue rasa banyak banget. Miskin, tidak berpendidikan (nalar dikalahkan dengan kebutaan terhadap kepercayaan), terhimpit desakan ekonomi dan ngga tau besok mau makan apa. Dalam keadaan seperti ini siapapun juga akan sulit berpikir dan mencari solusi dengan baik. Saling tuduh biasanya dilakukan karena sifat alami manusia yang ngga mau salah.

Lalu gimana dong biar kita bisa bantu mereka?

Kalau masalahnya ekonomi, berarti kan kita bisa menolong mereka (mereka disini bukan satu dua atau seratus keluarga miskin yang kita bisa tolong dengan program bakti sosial, tapi merujuk ke semua keluarga miskin yang terjepit) dengan meningkatkan taraf ekonomi terendah di masyarakat. Mungkin udah ngomongin skala nasional.

Jadi, mungkin gue harus jadi pemimpin untuk bisa bantuin mereka dengan kebijakan-kebijakan daripada bikin program sosial ini itu?

Karena kebijakan kan skalanya lebih luas dan kena ke lebih banyak target. Padahal gue pengennya ada solusi yang bisa dilakukan masyarakat biasa kaya gue ini. Karena gue suka konsep ’ringan sama dijinjing’. Sebenernya gue belum dapet jawabannya sih dari pertanyaan pertama tadi. Gue cuma pengen nginget ini aja dan kali-kali bisa ngasih ide ke temen-temen gue. Kali-kali ada yang tau jawaban atau kisi-kisi ke jawaban yang asik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s