Kita Semua Adalah Duta

JG5B0179.jpg

Indonesia dan Swedia. (Dok KBRI-Ignatius Hari)

Pada kamus gue, seorang duta itu seseorang yang membawa suatu nilai untuk diperlihatkan dan dipromosikan kepada khalayak umum. Duta pariwisata itu orang yang mempromosikan pariwisata. Duta besar suatu negara membawa bendera negara tersebut. Duta Sari Roti pengen membuat Sari Roti dikenal diseluruh dunia. Tapi, kalau tidak secara khusus dilantik sebagai duta, apa kita tidak bisa membawa nilai-nilai untuk diperlihatkan?

Dari judul tulisan, uda bisa ketauan lah ya jawaban gue. Gue percaya banget kalau kita semua adalah duta untuk sesuatu. Sesuatunya bisa banyak banget. Misalnya, gue pengen selalu mempromosikan nilai-nilai budaya yang baik, yang gue pelajarin selama hidup gue. Misalnya, kesederhanaan, the minimalists (gaya hidup minim), atau gaya hidup bakti sosial. Tapi, kali ini gue mau kecilin bahasannya ke duta yang mempromosikan Indonesia.

Segitiga maut

Kita uda tau lah ya, kalau mahasiswa Indonesia di luar negeri itu juga otomatis menjadi duta bagi Indonesia. Baik budayanya, prestasinya, tutur kata, keramahan, makanan, semuanya deh. Alhamdulillah sepanjang yang gue perhatikan di semua negara yang udah gue datangi, orang-orang Indonesianya (mahasiswa ataupun bukan), semuanya bangga akan Indonesia dan mengambil peran dalam promosi Indonesia.

Di Stockholm ini khususnya, ada yang gue sebut ”segitiga maut”. Hm, out of topic sebentar. Gue tadi main bola juga sering nyebut-nyebut “segitiga-in, segitiga-in”. Maksudnya adalah, ketika satu orang bawa bola, harus ada dua orang temannya yang mengambil posisi yang membentuk segitiga, agar memudahkan dalam membagi bola tanpa dapat tercuri oleh lawan. ”Segitiga maut” di Stockholm juga mirip. Ada mahasiswa, masyarakat (warga Indonesia yang menetap disini) dan juga KBRI, yang selalu bahu-membahu di setiap acara. Baik acara milik mahasiswa, acara inisiasi ibu-ibu Indonesia disini, ataupun acara diplomasi KBRI.

Diplomatic Spouses Club of Sweden Gathering

JG5B0247.jpg

Para tamu dan pengisi acara. (Dok. KBRI – Ignatius Hari)

Kamis kemarin ini baru aja kami mahasiswa Indonesia di Stockholm tampil bermain angklung di salah satu acara internasional yang diadakan oleh KBRI. Diplomatic Spouses Club of Sweden itu adalah kumpulan spouses (pasangan, istri atau suami) dari para duta besar di Swedia. Semacam Bhayangkari-nya para duta besar gitu kali ya. Nah pokoknya, bulan lalu kami diminta Bu Ning (istri dari Pak Dubes) untuk mengisi acara itu dengan penampilan angklung. Karena gue suka sama yang berbau musik dan promosi Indonesia, gue ikutan aja. Akhirnya terbentuklah tim 10 orang, mayoritasnya mahasiswa, tapi ada juga ibu-ibu diplomat kita disini.

Walaupun cuma bisa latihan 4 kali, Alhamdulillah kami bisa siap dan lancar memainkan angklung untuk tiga lagu yang kami siapkan. Faktor utamanya karena Aulia mungkin ya, karena dia udah pengalaman banget dengan penampilan angklung, jadi ketika melatih, kami jadi cepat bisa. Proses latihannya juga seru. Tiap latihan pasti ada aja canda tawa. Tidak terkecuali ketika membungkus makanan sebelum pulang ke rumah.

Pada hari H, gue perhatiin, ada sekitar 30-an tamu yang datang. Udah jelas, semuanya bule. Acaranya dipandu oleh Rini, anak pak Dubes yang juga mahasiswa di Swedia sini (kota lain, bukan di Stockholm). Selain penampilan angklung kami, ada juga pemutaran video tentang Indonesia, ada tari Tor-tor, ada tari Ronggeng. Acara yang berlangsung dari jam 11 hingga jam 14 itu ditutup dengan makan siang. Tentunya dengan menu Indonesia. Tentunya ini juga yang kami nanti-nanti sebagai mahasiswa. Pulang bawa rendang, bisa buat dua hari!

JG5B0225.jpg

Tari Ronggeng. (Dok.KBRI – Ignatius Hari)

JG5B0251.jpg

Rendang dan Sate untuk para tamu (dan para mahasiswa, kalau ada sisa)

Gue pribadi seneng ya bisa tampil membawakan musik tradisional Indonesia. Dan ternyata senengnya gue itu juga dirasakan sama temen-temen gue yang ikut main kemarin. ”Bangga juga bisa kenalin tarian dari Indonesia tercinta”, kata Virginia Samantha (biasa dipanggil Nia), yang selain tampil main angklung, juga menarikan tari Tor-tor. Dia menambahkan, kalau ada waktu dan kesempatan, pasti akan menerima ajakan tampil lagi.

”Kalo lo, seneng ga Bud bisa main angklung kemarin?” tanya gue ke Budi.
”Seneng. Makin bangga jadi orang Indonesia dan bisa ikut memperkenalkan budaya Indonesia”, jawab mahasiswa S2 jurusan Macromolecular Materials di KTH ini.

Tiap pemain musik memakai baju adat

Satu hal lagi yang menurut gue spesial adalah ketidakseragaman kostum kami. Kalau biasanya pemain musik itu seragaman, kemarin kami beda semua. Beda tapi tetap satu ya ga sih? Gelaaa Indonesia bat! Iya, jadi tiap pemain memakai baju adat suatu daerah. Kemudian di akhir penampilan, kami maju satu persatu dan menyebutkan baju adat kami berasal dari daerah mana.

”My name is Satu and I am wearing traditional clothes from West Sumatra”

JG5B0269.jpg

Foto para Angklungers. (Dok.KBRI – Ignatius Hari)

IMG-20180208-WA0028.jpg

Abang ganteng. Foto oleh Rizal Pahlevi.

Yang gue lewatin pada hari H kemarin itu adalah, memperhatikan detil tiap kostum. Gue baru menyadarinya ketika liat foto-foto dokumentasinya. Bagus-bagus ya ternyata baju adat kita. (iya, iya, tau. Telat banget emang gue). Favorit gue baju dayak kayanya. Karena gue suka warna item. Kebetulannya adalah gue kebagian (dipilihin, bukan kita yang milih) baju Sumatra Barat, sementara gue ada darah Padang juga (dari bokap). Celananya gombrong banget btw. Untung aja ada sarung tengahnya jadi engga keliatan kalau itu kegedean banget di gue.

Engga jadi duta juga boleh

Karena semua orang punya hak untuk engga melakukan sesuatu yang dia engga mau, maka bisa juga ada orang yang memutuskan engga mau ikut-ikutan main angklung, atau engga mau terlibat di kepanitiaan acara-acara promosi Indonesia di negara tempat dia belajar. Boleh-boleh aja dan itu engga bisa jadi alasan kita untuk kesel sama dia. Gue ngeliat ini kaya ”minus-netral-plus” gitu kali ya. Kalau mau hidup saling tolong-menolong, ya baik banget, itu plus. Kalau engga mau super baik, maunya biasa-biasa aja, ya gapapa juga. Tapi jangan sampe minus sih, yaitu misalnya saling benci, saling nyakitin, mencemooh Indonesia atau sesama rakyat Indonesia (cemooh beda sama kritik btw). Nah itu tuh baru yang ga oke. Ga baik buat orang lain, dan ga baik buat kita sendiri.

Karena yang dinilai dari kita itu bukan apa yang kita punya,
melainkan apa yang kita lakukan dengan kepunyaan kita tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s