Dari Koper ke Ransel

1.jpg

Foto oleh Sebastian Voortman

Jaman sekarang hampir semua orang bisa berwisata, atau dalam bahasa yang sering gue sebut: berpetualang. Berpetualang menurut definisi gue engga harus pakai ransel, tapi pakai koper juga bisa disebut demikian. Keluar rumah dengan tujuan melihat sesuatu yang tidak rutin, menurut gue itu udah petualangan. Sering ada orang berpendapat ransel lebih keren daripada koper. Ada juga orang yang menilai sebaliknya. Itu seperti warna sih menurut gue. Lo suka merah, gue suka hitam, dan keduanya engga lebih baik dari yang lainnya, itu hanya pilihan aja. Walaupun begitu, gue pribadi engga menyalahkan kalau ada orang yang menilai ransel itu lebih asik daripada koper. Gue pribadi adalah petualang dengan ransel. Dan di tulisan ini, gue mau coba kampanye, bukan agar anak koper berubah jadi anak ransel, tapi intinya adalah membawa seperlunya aja.

Pertama kita sebutin dulu poin-poin pentingnya. Koper itu seringkali lebih besar kapasitasnya. Lebih sederhana juga pemakaiannya. Lebih ringan juga dibawahnya. Tidak perlu dipikul tapi ditarik saja sudah cukup, karena ada roda yang membantu. Tapi kelemahannya juga ada. Misalnya ketika jalannya tangga dan lift nya rusak. Atau ketika jalannya berbatu dan tidak rata. Atau juga, ketika di negara yang bersalju dan sedang tebal-tebalnya. Rodanya tidak akan bekerja, dan sama seperti kita menyeret kotak besar yang berat (tanpa roda).

Ada pepatah modern yang bilang: Less is more.

Ketika rumah kita kecil, kita terpaksa mengisinya dengan barang-barang yang diperlukan saja.
Ketika uang kita sedikit, kita mau tidak mau mengeluarkannya untuk hal penting saja.
Ketika kapasitas tas kita kecil, maka kita cenderung membawa seperlunya saja.

Otak pun diputar untuk berpikir, ”Gimana gue bisa tetap memakai baju bersih setiap hari dengan 5 potong kaos untuk petualangan sepuluh hari?”. Bulan lalu ada temen gue yang main kesini untuk berpetualang bersama keluarganya selama 15 hari. Mereka berempat. Ketika ia bertanya harus bawa apa saja, gue biasanya menjawab, ”Bawa seperlunya saja”. Tapi gue sadar kalau keperluan orang itu berbeda-beda, dan disinilah kita sebaiknya lebih detil dalam memberi informasi. Gue tambahkan lagi, ”Kalau saya, biasanya atasan 5 potong, bawahan 3 potong, dalaman 6 potong”. Karena gue tahu kalau kita akan menginap di airbnb dan hampir semua rumahnya akan ada mesin cuci.

Ia pun datang setuju, dan ketika datang dengan dua koper -satu besar dan satu sedang- dan dua ransel, gue melihat bahwa satu kopernya kosong. Sengaja mereka kosongkan untuk oleh-oleh. Dan terbukti, ketika pulang, bawaannya tidak bertambah dengan tas belanja dan lainnya. Semua masuk di tas yang mereka sudah bawa.

”Tapi bang, lu enak cowo. Gue cewe kan perlu banyak barang”

Kalau argumennya udah cowo-cewe sih, gue engga bisa melawan. Karena engga ada diposisi itu. Tapi gue tau beberapa temen cewe yang suka keep it simple. Dandannya dikit dan berarti bawaannya juga engga banyak. Gayanya sederhana, artinya sepatu pakai satu aja yang nyaman udah cukup.

Apa makin ringan akan makin enak petualangannya?

Gue pribadi berpendapat demikian. Tapi tentu kalau hanya bawa 2 potong baju, satu untuk jalan dan satu untuk tidur, artinya kita perlu nyuci baju tiap malam agar besok bisa tetap pakai baju bersih lagi. Jadi ada angka ditengah yang Cuma kita sendiri yang bisa ukur.

Mengambil kesederhanaan di lingkup yang lebih luas lagi: di rumah

Ada gaya hidup baru yang dinamakan The Minimalists. Diusung oleh dua bule, yang intinya adalah membuang (menyumbangkan atau menjual) semua barang dirumah kita, kecuali yang kita benar-benar perlu dan pakai setiap harinya. Misalkan kita tidak menggunakan barang itu setiap hari, maka itu harus dibuang. Hal ini pasti engga mudah untuk orang pada umumnya. Kita suka ketujuh sepatu yang ada di rak sepatu kita. Kita suka punya pilihan baju sampai 12 atasan dan 12 bawahan, yang mana akan menciptakan 144 kombinasi. Tapi menurut gue, satu minggu itu Cuma 7 hari. Hari kerja maksimal Cuma 6 hari. Kalau di hari ke 13 kita pakai baju di hari pertama, orang juga engga akan sadar atau keberatan dan mengejek. Kita engga butuh 144 kombinasi pakaian. Dan The Minimalists ini bukan untuk pakaian aja sih, tapi semua barang. Lemari, hiasan, elektronik, dan sebagainya.

Manfaatnya apa sih emang dari mengosongkan isi rumah kita?

Prinsip mereka (si penggagas the minimalists ini), gue udah sebutin diatas: less is more. Dengan lebih sedikit barang, ruangan akan makin banyak dan lowong. Dengan ruangan makin lowong, kita akan sadar kalau kita sebenarnya engga butuh rumah atau kamar besar, sehingga bisa pindah ke rumah yang lebih kecil dan lebih murah. Atau kamar ekstra bisa disewakan dan menghasilkan sesuatu. Gue sendiri percaya ruang lowong itu menciptakan kreatifitas, berbanding terbalik dengan ruangan penuh yang membatasi kreatifitas berpikir.

Kemudian ada lagi keuntungan dari segi efisiensi. Dengan baju yang lebih sedikit, kita akan lebih mudah juga memilih baju untuk dipakai. Bukan berarti kita tidak boleh punya baju baru, lho. Jika sudah bosan dengan yang lama, boleh ditukar dengan yang baru. Sumbangkan satu, ambil satu yang baru.

Prosesnya engga harus langsung buang semua.

Kita bisa mencoba perlahan. Gue sendiri mau mencoba konsep ini, tapi masih belum bisa membuang banyak hal. Tapi gue udah sumbangkan hampir setengah baju gue. Dan kantong kedua untuk disumbangkan juga udah hampir penuh. Target gue dalam tiga bulan kedepan, gue akan setengahkan semua barang yang ada dirumah gue (diluar baju karena udah abis setengah).

Jangan takut dengan konsep yang baru

Satu pola yang sering gue liat dari orang-orang adalah: kita semua cenderung defensif dan menolak hal yang baru. Padahal belum tentu konsep baru itu lebih jelek. Bahasa lainnya, ”belum tau kalau belum dicoba”. Toh, kalau udah mencoba dan engga suka, kita bisa memilih untuk balik lagi ke konsep sebelumnya. No harm done. Gue rasa ini yang dimaksud dengan open-minded. Membuka diri terhadap hal-hal diluar hal yang biasanya di masyarakat. Bukan berarti harus ikut kok. Tapi mengakui kalau itu ada (sebagai warna yang memang ada di masyarakat) dan juga mempelajarinya sebelum menilainya.

Iklan

Cerdas Cermat untuk Ahklak

1.jpg

Hormat. Foto dari entrepreneur.com

Makan siang hari ini ada yang berbeda sedikit dari biasanya. Orangnya lebih sedikit, tempatnya juga dirumah salah satu teman kami yang tinggal didekat kampus. Kami bertiga makan dengan santai pada awalnya. Sampai Sari bertanya, ”Tuntutan 212 kemarin itu apa sih?” Tidak, tulisan ini bukan tentang itu kok. Dikarenakan sudah ada 102,302 tulisan lain dengan topik 212. Kemudian saya menjawab dengan apa yang saya tahu. Tapi arah obrolan jadi tentang Indonesia. Dan yang paling keren, bagaimana menjadikannya lebih baik. Disatu titik, Puput bilang ”Pinter banget itu belum tentu sejalan dengan attitude” dan menceritakan temannya yang lulus kuliah dengan sempurna kemudian berakhir dengan terlibat di kasus korupsi. Kami pun berandai-andai sejenak. ”Ada ngga sih, lomba pendidikan tapi nilai moral? Misalnya, seperti cerdas cermat, tapi untuk ahklak” Baca lebih lanjut

Kotak Ide Untuk Pemerintah

1.jpeg

Kotak. Dari unsplash.com

Pernah punya ide bagus dan bisa diaplikasikan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat dan sekitar kita? Atau ngga usah yang berat dulu deh, pernah kan pasti memikirkan suatu masalah kecil dan ngerasa ada caranya untuk menyelesaikannya, ”Coba kalo gini, pasti ngga akan terjadi tuh masalahnya”, kata lo dalam hati. Masalahnya, ide-ide ini kan seringnya menguap tanpa pernah diaplikasikan. Jangankan diaplikasikan dan dicoba, dibilang ke orang lain aja boro-boro. Jadi hanya antara lo dan alter ego lo aja (kalo punya). Padahal ya, mungkin aja ide lo itu ide keren banget yang mudah dan bener bisa jadi solusi. Ga keren banget kan kalo ilang gitu aja. Nah dengan alasan serupa juga, gue menulis ide gue ini di blog, setidaknya besok-besok bisa gue baca lagi dan matangkan.

Baca lebih lanjut

Indahnya Sosial Media di Hari Lebaran

temp2.jpg

Dua hari terakhir ini, gue nge-like lebih banyak pos dan foto dibandingkan tiga bulan main Facebook tiap hari. Bukan karena pelit like kok, tapi emang karena dua hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Dalam dua hari ini hampir semua teman di Facebook membuat pos tentang lebaran mereka. Bersama keluarga di kampung, ada yang tetap di Jakarta juga menikmati sepinya ibukota, ada yang di luar negeri bersama teman-teman pelajarnya, dan banyak lagi. Tapi intinya adalah, banyak cinta di Facebook gue dua hari ini. Baca lebih lanjut

Bangga

277464_002

Kompas/Ingki Rinaldi

Bangga. Satu kata itu mewakili perasaan gue sama temen-temen gue di Jakarta. 1 Januari 2016 pagi ketika banyak orang pulang kerumah setelah malamnya berpesta kembang api, temen-temen gue ini turun ke jalan raya. Jalan raya yang dipenuhi sampah setelah pesta tadi malam. Yang paginya dipenuhi juga dengan petugas-petugas kebersihan. Temen-temen gue ini, membagikan paket sarapan kepada petugas kebersihan. Baca lebih lanjut

nongkrong dan sampah

 

indomart point

indomart point

Nongkrong itu di kamus gue sebenernya bukan kegiatan negatif. Mungkin untuk beberapa orang yang ngga suka ketemu orang dan ngobrol, nongkrong itu ga positif. Tapi gue suka kegiatan bertemu orang banyak, ngobrol dan bertukar info. Setidaknya buat gue, itu positif karena brainstorming dan entertainingBisa tukeran info dan sharing ide dan minta pendapat, atau kalau ngga ada itu, atleast bisa ketawa dan hiburan aja. Kalo ngga ada dua itu baru biasanya gue malas untuk berlama-lama. Nah dalam hal memilih tempat nongkrong, Gue dulunya sih ga terlalu ribet, tapi sekarang perlahan  uda mulai peduli sama badan dan kesehatan. Waktu SMA, kami nongkrong di warung ibu, di bagian tangganya, deket got. Kadang di trotoar, deket got juga. Kalo rada sorean atau malem, mulai bernyamuk. Tingkat asap dan polusi juga ga gitu bagus.

Nah jaman sekarang udah lebih keren. 7Eleven dan Indomart dan teman-temannya udah menambah fiturnya dari sekedar warung beli beli barang, sekarang ada teras nyamannya untuk nongkrong. Lumayan enak lagi, terang, dingin, spacenya lumayan banyak. Polusinya pun ga langsung kaya kalo nongkrong di trotoar pinggir jalan. TETAPI EH TETAPI, tadi malam gue mampir ke indomart point untuk beli susu ultra dan air putih,

kok bisa sih nongkrong dengan sampah berserakan di lantai kaya gitu?

kalo asep rokok sih gue masih bisa tolerir, soalnya mereka lagi ada di teras, masuk kategori luar ruangan. Tapi hampir disetiap meja dan kumpulan, dijarak kurang dari 1 meter nya, pasti ada sampah di lantainya. Ga sedikit pula. Gue gatau itu apakah sampah geng sebelumnya yang duduk disitu, trus grup berikutnya yang mau duduk mau memakai meja yang bersih tapi ga mau ada sampahnya disitu, atau memang itu sampah mereka juga dan mereka terlalu malas untuk jalan 6 meter ke tempat sampah yang disediakan pihak indomart point. Gue orangnya sering empati, untuk memastikan apa yang gue pikir itu ga lebay, jadi gue membayangkan kalo gue adalah salah satu dari kumpulan gitu. Dan gue tetep ga begah nongkrong di sekitaran sampah kek gitu. Dan itu ubinnya bersih banget lho. Jadi kontras ketika ada sampah plastik, chiki udah abis, dan juga abu rokok. Bukannya enak banget ya kalo ngobrol-ngobrolnya di tempat bersih?

Oya sekalian mumpung gue lagi inget, mengurangi sampah plastik itu juga baik untuk bumi, jadi gue udah mulai bilang, “mba, gausa pake plastik” kalo barang yang gue beli cuma 1-2 barang.

Kan ga gitu susah, makan chiki, abis, buang. Jalan kaki 5 langkah bisa lebih sehat daripada duduk ga berdiri selama 2 jam. Ga gitu susah juga make plastik dari indomart, atau bekas bungkus chiki kosong, untuk jadi tempat abu rokok. Dan ketika uda selesai dan mau cabut, plastik plastik tadi di kumpul trus taro tongsampah pas ontheway ke motor. Jadi yang dateng berikutnya bisa, “wah mejanya bersih banget”. Gue kira di SD selama 6 tahun kita diajarin Bersih Pangkal Sehat?

Lalu gue mikir lebih luas lagi, ternyata bukan cuma disitu yang rawan sampah ditempat orang yang rame. Diragunan yang notabene adalah kebun binatang dan banyak pohon dan rumputnya, pun ga jauh dari sampah didekat orang pada buka tiker. Bukan cuma pengunjung malah, penjual yang tiap hari mencari nafkah disana juga jarang mengindahkan pentingnya buang sampah di tempatnya. Lalu di Monumen Nasional kebanggaan Jakarta dan Indonesia, samapun sampah. Di carfreeday tiap hari minggu pun sama. Minggu kemarin gue ke kawinan temen gue, dan tempat tamu duduk dan makan itu di halaman rumah, sama pun banyak sampah juga. Gue pun ngerasa harus melakukan sesuatu.

Ide gue sih mungkin belum tentu asik buat kita semua, tapi gue pikir, gimana kalo setiap kita menyaksikan anak muda yang buang sampah ditempatnya, itu kita kasih suatu award.

Ga cuma buang sampah di tempatnya, tapi membersihkan meja yang abis dipake, memungut sampah orang lain, atau naro sampahnya di kantong karena ga nemu tempat sampah, itu juga keren menurut gue. Dan mungkin ga ya kira kira kalo kita kasih award, mereka jadi tambah semangat, dan temen-temennya juga jadi mulai berubah. Gimana menurut kalian? Ini baru konsep sederhana aja. Bentuk usaha kecil menyemangati anak-anak muda sekarang untuk lebih jaga kebersihan dan menjadi pribadi yang lebih keren lagi nantinya. Hadiah yang kita kasih pun terserah kita, bisa kita kasih coklat, atau susu ultra, atau voucher, atau pulsa, atau apa aja yang kita rasa pantas. Kalo emang ini ide yang bagus, dan gue dapet respon positif, asik juga kita gedein, jadiin satu konsep program, dan kita jalanin misalnya selama 3 bulan. Semua orang bisa ikutan. Dan sosial media kita pake untuk klausa yang positif ini.

Gimana menurut kalian? ngobrol sama gue di facebook gue facebook.com/satucl atau twitter gue @satuCL . atau komen disini juga bisa. Makasih udah baca ya 🙂

/SCL

Putih Lawan Hitam

kursi wakil rakyat

kursi wakil rakyat

Ini bukan peraduan warna, yang mana yang lebih keren. Karena kalo memang warna, sebenernya gue suka dua-duanya. Putih bersih, hitam elegan dan keren. Tapi putih lawan hitam disini itu mengenai kondisi negara kita sekarang (negara gue, kalo lo orang bule). Dimana setelah pakde Jokowi menang dan kita senang, dan setelah kubu lawannya kalah gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) lalu kita girang. Ketika kita kira harapan di 5 tahun kedepan akan lebih besar berkali-kali lipat lagi, eeh tadi malem diketok palu dipilihnya ketua DPR dan 4 wakilnya berasal dari kubu lawan itu. Kita sebut aja kubu hitam.

Dalang dibalik rese nya kubu hitam ini, ternyata bukan cuma ga mau ngalah dan kolokan, tapi juga jenius dalam strategi perang. Dia ga bisa ambil tahta presiden, maka diambil wilayah DPR yang merupakan penentu undang-undang dan banyak keputusan lainnya juga. Dan mereka destruktif. Mengubah undang-undang (UU) pemilihan kepala daerah yang tadinya bisa kita pilih melalui pemilu, sekarang jadi dipilih oleh DPR, dan gada lagi pemilu. Sampe-sampe kemarin gue liat berita KPU di beberapa daerah yang lagi persiapan pilkada tahun depan, jadi berhenti kegiatannya. Yaiyalah, kan uda gada pilkada, ngapain juga ada KPU, ya ga.

Belum selesai sampe disitu, kabarnya si kubu hitam ini pengen merevisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan juga memilih presiden lewat MPR. NGOK banget.

Pertandingan hitam putih nya yang tadinya dimenangin kubu putih, sekarang jadi kaya seimbang lagi. Harapan kita cuma ada di Jokowi dan JK, insyallah juga di menteri-menteri yang mereka pilih. Kalo dari segi pelaksanaan pembangunan negara, gue rasa mereka aja uda cukup, tapi kan undang-undangnya di wilayah DPR. Apalagi kalo UU KPK berhasil dirubah, wah bakal bisa aman mereka yang korupsi.

Trus kita bisa ngapain untuk fight back ? Mba titi yang bikin petisi besar menolak RUU pilkada tak langsung aja ga gitu banyak memberi hasil karena uda diketok juga pengesahan RUU itu. Petisi petisi lain yang bernada menggugat keputusan RUU pilkada, bukan ga mungkin kaya gitu juga hasilnya.

Tapi gue rasa ya, kita masih bisa fight back. Ini baru pemikiran super sederhana gue aja sih. Gue sendiri ga pinter hukum dan cuma penonton selama ini. Tapi gue percaya banget Indonesia itu raksasa yang lagi terbaring, bukan karena malas tapi karena kuman kuman didalamnya membuat dia paralyzed dan ga mudah bergerak. Gue pengen jadi Lactobacillus , atau bakteri baik yang menyehatkan badannya dan membasmi kuman merugikannya, supaya si raksasa bisa berdiri tegak, melompat, dan berlari. Itu pasti keren banget.

Si DPR ini jumlahnya sekitar 500an ya kalo gasalah. mereka itu berbanding 260 juta warga negara Indonesia di bumi. Kalah jumlah jauh. 260 juta mata dan otak kalo singkron itu bisa jadi pengawas, penyebar info yang efisien banget.

Kita bisa awasin terus gerak-geriknya, dan publikasi. Jadi yang positif akan jadi positif (karena alhamdulillah dari semua anggota DPR, ga semua yang kubu hitam). Khususnya kalo ada yang melakukan korupsi atau kejahatan lain, lapor agar bisa ditelusuri. Kalo dia ngomong sesuatu yang ngga pro rakyat, disave dan disebar. Biar pemilihnya sadar kalo mereka milih orang yang salah. Intinya kita melakukan monitoring yang intensif. Kalo ada dari kita yang mengerjakan project sama salah satu dari mereka, disebar juga, agar bisa diikuti progressnya, lancar apa ada yang ga bener.

Selama ini kita kan gatau tiap tiap anggota DPR itu siapa, apa rekam jejaknya, itu bisa mulai dari situ. Jadi kalo ada yg uda pernah terlibat kasus, kita bisa awasin lebih ketat lagi.

Pada akhirnya ini bukan tentang hitam atau putih, tapi memajukan bangsa. Mensejahterakan rakyat. Kejujuran. Transparan tentang penggunaan uang dari pajak rakyat. Saling tolong menolong.

Maju terus Indonesiaku.

/SCL