Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

1.jpg

Pemandangan adem. Oleh Riccardo Bresciani

Gue suka mempelajari manusia dan pemikirannya. Melihat laku, keputusan, apalagi sesuatu yang ngga biasa dari orang di sekitar gue, baik teman maupun stranger. Ketika baca artikel tentang bunuh diri, gue pun jadi banyak memikirkan hal itu. Kenapa sih orang bisa terpikir untuk bunuh diri? Kenapa sebagian orang lainnya (seperti gue) ngga sampe berpikir kesana? Apa mungkin masalah gue ngga sebesar mereka? Baca lebih lanjut

Iklan

Membela Yang Lemah

gambar dari livingfreelance.org

gambar dari livingfreelance.org

Awal bulan kemarin, gue bareng temen-temen bule nonton pertandingan hoki es di kota Göteborg. Pertandingan waktu itu antara tuan rumah melawan tim tamu dari kota Luleå. Kami duduk di sisi pendukung tim tuan rumah. Padahal sebenernya gue mendukung Luleå. Pada setiap kesempatan Luleå menyerang, gue bersorak untuk mereka. Sampe temen gue Andres marahin gue, katanya bahaya kalo dukung tim tamu kalo duduk di sisi sini. Nah selain gue, yang mendukung tim tamu tuh ada satu lagi temen kami, yaitu si Bila dari Polandia. Sebagai dua orang pendukung tim tamu dari grup kami, gue nanya dia dong, ”Eh kamu kenapa dukung Luleå?” gue menebak-nebak kalo mungkin dia ngerti hoki atau dia suka warna benderanya Luleå.

”Oh, gue selalu dukung tim tamu kalo di pertandingan gini. Karena mereka sedikit pendukungnya”

Baca lebih lanjut

Cerdas Cermat untuk Ahklak

1.jpg

Hormat. Foto dari entrepreneur.com

Makan siang hari ini ada yang berbeda sedikit dari biasanya. Orangnya lebih sedikit, tempatnya juga dirumah salah satu teman kami yang tinggal didekat kampus. Kami bertiga makan dengan santai pada awalnya. Sampai Sari bertanya, ”Tuntutan 212 kemarin itu apa sih?” Tidak, tulisan ini bukan tentang itu kok. Dikarenakan sudah ada 102,302 tulisan lain dengan topik 212. Kemudian saya menjawab dengan apa yang saya tahu. Tapi arah obrolan jadi tentang Indonesia. Dan yang paling keren, bagaimana menjadikannya lebih baik. Disatu titik, Puput bilang ”Pinter banget itu belum tentu sejalan dengan attitude” dan menceritakan temannya yang lulus kuliah dengan sempurna kemudian berakhir dengan terlibat di kasus korupsi. Kami pun berandai-andai sejenak. ”Ada ngga sih, lomba pendidikan tapi nilai moral? Misalnya, seperti cerdas cermat, tapi untuk ahklak” Baca lebih lanjut

5A

85.jpg

Bukan 5A kami, tapi desainnya bagus ya. Oleh Natalka Dmitrova

Beberapa minggu setelah 19 Oktober 2007, Saya memutuskan untuk membuat tulisan rutin setiap tanggal tersebut tiap tahunnya. Memperingati wafatnya ayah Saya. Tahun ini tidak terasa sudah 9 tahun beliau pergi. Banyak sekali yang sudah terjadi sejak 9 tahun lalu. Saking banyaknya, Saya khawatir informasinya akan menutupi, menimpa cetak ingatan Saya tentang beliau. Tahun ini Saya akan menulis tentang kediaman kecil kami di Rawajati, Kalibata. Kediaman petakan berlabel 5A. Baca lebih lanjut

Indahnya Sosial Media di Hari Lebaran

temp2.jpg

Dua hari terakhir ini, gue nge-like lebih banyak pos dan foto dibandingkan tiga bulan main Facebook tiap hari. Bukan karena pelit like kok, tapi emang karena dua hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Dalam dua hari ini hampir semua teman di Facebook membuat pos tentang lebaran mereka. Bersama keluarga di kampung, ada yang tetap di Jakarta juga menikmati sepinya ibukota, ada yang di luar negeri bersama teman-teman pelajarnya, dan banyak lagi. Tapi intinya adalah, banyak cinta di Facebook gue dua hari ini. Baca lebih lanjut

Kebangkitan Nasional dengan Filosofi Swedia

Artikel ini saya tulis untuk Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia) dan di pos ulang di blog ini.

download3.jpg

bendera indonesia. dari karlitanatashaaini.wordpress.com

Semua hal itu bisa kita jadikan guru, secara sengaja maupun tanpa disadari. Baru kemarin kemarin saya bercuap-cuap di Radio PPI Dunia mengenai hal ini. Bahwa kejadian yang kita lihat, suara yang kita dengar, hal yang kita baca, rasa yang ada, bisa mengajarkan suatu hal baik pada kita. Walaupun dalam skala yang tidak besar, tapi mungkin saja menjadi titik balik yang penting, untuk diri kita pribadi, dan bisa juga untuk kelompok yang lebih besar. Kata kuncinya adalah, jika kita memperhatikan. Menelaah, bertanya kenapa, mencerna hingga semua yang masuk, akan diambil sari-sari baiknya dan dibuang yang tidak baiknya. Bukan rocket science, karena kita sudah memiliki konsep itu didalam tubuh kita. Belajar dan hidup di Swedia juga memberikan kita banyak masukan yang baik. Baca lebih lanjut

Ulasan Film: Conjuring 2

temp

Conjuring 2 . imdb

Dalam satu kalimat perangkum: lebih bagus daripada Conjuring 1! Ga percaya? Gue juga tadinya skeptis dan menganggap hampir semua film sekuel itu ngga pernah lebih bagus dari yang versi pertamanya. Dari banyak contoh yang ada, gue kecilin ke contoh film horor aja deh. Sinister lebih bagus yang pertama, Resident Evil lebih keren yang pertama, Insidius 2 setara sama yang pertama. Jadi gue berangkat nonton hari ini dengan ekspektasi yang rendah. Kadang emang kalau ekspektasi rendah itu, enak ya rasanya ketika dapetnya lebih. Ternyata puas banget nonton Conjuring 2. Baca lebih lanjut