Kita Semua Adalah Duta

JG5B0179.jpg

Indonesia dan Swedia. (Dok KBRI-Ignatius Hari)

Pada kamus gue, seorang duta itu seseorang yang membawa suatu nilai untuk diperlihatkan dan dipromosikan kepada khalayak umum. Duta pariwisata itu orang yang mempromosikan pariwisata. Duta besar suatu negara membawa bendera negara tersebut. Duta Sari Roti pengen membuat Sari Roti dikenal diseluruh dunia. Tapi, kalau tidak secara khusus dilantik sebagai duta, apa kita tidak bisa membawa nilai-nilai untuk diperlihatkan? Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Koper ke Ransel

1.jpg

Foto oleh Sebastian Voortman

Jaman sekarang hampir semua orang bisa berwisata, atau dalam bahasa yang sering gue sebut: berpetualang. Berpetualang menurut definisi gue engga harus pakai ransel, tapi pakai koper juga bisa disebut demikian. Keluar rumah dengan tujuan melihat sesuatu yang tidak rutin, menurut gue itu udah petualangan. Sering ada orang berpendapat ransel lebih keren daripada koper. Ada juga orang yang menilai sebaliknya. Itu seperti warna sih menurut gue. Lo suka merah, gue suka hitam, dan keduanya engga lebih baik dari yang lainnya, itu hanya pilihan aja. Walaupun begitu, gue pribadi engga menyalahkan kalau ada orang yang menilai ransel itu lebih asik daripada koper. Gue pribadi adalah petualang dengan ransel. Dan di tulisan ini, gue mau coba kampanye, bukan agar anak koper berubah jadi anak ransel, tapi intinya adalah membawa seperlunya aja.

Pertama kita sebutin dulu poin-poin pentingnya. Koper itu seringkali lebih besar kapasitasnya. Lebih sederhana juga pemakaiannya. Lebih ringan juga dibawahnya. Tidak perlu dipikul tapi ditarik saja sudah cukup, karena ada roda yang membantu. Tapi kelemahannya juga ada. Misalnya ketika jalannya tangga dan lift nya rusak. Atau ketika jalannya berbatu dan tidak rata. Atau juga, ketika di negara yang bersalju dan sedang tebal-tebalnya. Rodanya tidak akan bekerja, dan sama seperti kita menyeret kotak besar yang berat (tanpa roda).

Ada pepatah modern yang bilang: Less is more.

Ketika rumah kita kecil, kita terpaksa mengisinya dengan barang-barang yang diperlukan saja.
Ketika uang kita sedikit, kita mau tidak mau mengeluarkannya untuk hal penting saja.
Ketika kapasitas tas kita kecil, maka kita cenderung membawa seperlunya saja.

Otak pun diputar untuk berpikir, ”Gimana gue bisa tetap memakai baju bersih setiap hari dengan 5 potong kaos untuk petualangan sepuluh hari?”. Bulan lalu ada temen gue yang main kesini untuk berpetualang bersama keluarganya selama 15 hari. Mereka berempat. Ketika ia bertanya harus bawa apa saja, gue biasanya menjawab, ”Bawa seperlunya saja”. Tapi gue sadar kalau keperluan orang itu berbeda-beda, dan disinilah kita sebaiknya lebih detil dalam memberi informasi. Gue tambahkan lagi, ”Kalau saya, biasanya atasan 5 potong, bawahan 3 potong, dalaman 6 potong”. Karena gue tahu kalau kita akan menginap di airbnb dan hampir semua rumahnya akan ada mesin cuci.

Ia pun datang setuju, dan ketika datang dengan dua koper -satu besar dan satu sedang- dan dua ransel, gue melihat bahwa satu kopernya kosong. Sengaja mereka kosongkan untuk oleh-oleh. Dan terbukti, ketika pulang, bawaannya tidak bertambah dengan tas belanja dan lainnya. Semua masuk di tas yang mereka sudah bawa.

”Tapi bang, lu enak cowo. Gue cewe kan perlu banyak barang”

Kalau argumennya udah cowo-cewe sih, gue engga bisa melawan. Karena engga ada diposisi itu. Tapi gue tau beberapa temen cewe yang suka keep it simple. Dandannya dikit dan berarti bawaannya juga engga banyak. Gayanya sederhana, artinya sepatu pakai satu aja yang nyaman udah cukup.

Apa makin ringan akan makin enak petualangannya?

Gue pribadi berpendapat demikian. Tapi tentu kalau hanya bawa 2 potong baju, satu untuk jalan dan satu untuk tidur, artinya kita perlu nyuci baju tiap malam agar besok bisa tetap pakai baju bersih lagi. Jadi ada angka ditengah yang Cuma kita sendiri yang bisa ukur.

Mengambil kesederhanaan di lingkup yang lebih luas lagi: di rumah

Ada gaya hidup baru yang dinamakan The Minimalists. Diusung oleh dua bule, yang intinya adalah membuang (menyumbangkan atau menjual) semua barang dirumah kita, kecuali yang kita benar-benar perlu dan pakai setiap harinya. Misalkan kita tidak menggunakan barang itu setiap hari, maka itu harus dibuang. Hal ini pasti engga mudah untuk orang pada umumnya. Kita suka ketujuh sepatu yang ada di rak sepatu kita. Kita suka punya pilihan baju sampai 12 atasan dan 12 bawahan, yang mana akan menciptakan 144 kombinasi. Tapi menurut gue, satu minggu itu Cuma 7 hari. Hari kerja maksimal Cuma 6 hari. Kalau di hari ke 13 kita pakai baju di hari pertama, orang juga engga akan sadar atau keberatan dan mengejek. Kita engga butuh 144 kombinasi pakaian. Dan The Minimalists ini bukan untuk pakaian aja sih, tapi semua barang. Lemari, hiasan, elektronik, dan sebagainya.

Manfaatnya apa sih emang dari mengosongkan isi rumah kita?

Prinsip mereka (si penggagas the minimalists ini), gue udah sebutin diatas: less is more. Dengan lebih sedikit barang, ruangan akan makin banyak dan lowong. Dengan ruangan makin lowong, kita akan sadar kalau kita sebenarnya engga butuh rumah atau kamar besar, sehingga bisa pindah ke rumah yang lebih kecil dan lebih murah. Atau kamar ekstra bisa disewakan dan menghasilkan sesuatu. Gue sendiri percaya ruang lowong itu menciptakan kreatifitas, berbanding terbalik dengan ruangan penuh yang membatasi kreatifitas berpikir.

Kemudian ada lagi keuntungan dari segi efisiensi. Dengan baju yang lebih sedikit, kita akan lebih mudah juga memilih baju untuk dipakai. Bukan berarti kita tidak boleh punya baju baru, lho. Jika sudah bosan dengan yang lama, boleh ditukar dengan yang baru. Sumbangkan satu, ambil satu yang baru.

Prosesnya engga harus langsung buang semua.

Kita bisa mencoba perlahan. Gue sendiri mau mencoba konsep ini, tapi masih belum bisa membuang banyak hal. Tapi gue udah sumbangkan hampir setengah baju gue. Dan kantong kedua untuk disumbangkan juga udah hampir penuh. Target gue dalam tiga bulan kedepan, gue akan setengahkan semua barang yang ada dirumah gue (diluar baju karena udah abis setengah).

Jangan takut dengan konsep yang baru

Satu pola yang sering gue liat dari orang-orang adalah: kita semua cenderung defensif dan menolak hal yang baru. Padahal belum tentu konsep baru itu lebih jelek. Bahasa lainnya, ”belum tau kalau belum dicoba”. Toh, kalau udah mencoba dan engga suka, kita bisa memilih untuk balik lagi ke konsep sebelumnya. No harm done. Gue rasa ini yang dimaksud dengan open-minded. Membuka diri terhadap hal-hal diluar hal yang biasanya di masyarakat. Bukan berarti harus ikut kok. Tapi mengakui kalau itu ada (sebagai warna yang memang ada di masyarakat) dan juga mempelajarinya sebelum menilainya.

Sepuluh

Ngga kerasa udah satu dekade aja Papa pulang ke sisi Allah SWT. Sepuluh tahun lebih malah sih sebenarnya, karena genapnya itu tanggal 19 Oktober kemarin, tapi karena kelewatan, jadi di pas-in sama ulang tahun doi aja tanggal 28 November. Terbersit mau nulis ”woah 60 tahun dong ya kalau Papa masih ada”, tapi gue ngga begitu suka dengan ”kalau masih ada”. Udah lewat dan udah terjadi, kalau kata Papa dulu: ”Hadapi kenyataan”. Jadinya ngga boleh berandai-andai, apalagi tentang hidup-mati. Baca lebih lanjut

Yunus Ibrahim

1

Teman datang, teman pergi
Nama-nama hinggap di hati
Bersama mengukir cerita dan mimpi
Siapa menduga waktu dipanggil yang tak serasi

Udah beberapa bulan terakhir gue absen nulis duka cita di blog gue. Mungkin itu sebuah hal yang baik karena itu berarti ngga ada temen deket atau keluarga gue meninggal dunia. Tapi, kalau gue liat lebih luas lagi dan empati ke orang lain, sebenernya tiap hari di dunia ini ada aja yang meninggal. Baik itu sakit, kecelakaan, bencana alam, perang, atau sebab lainnya. Sampai kemarin malam, gue buka Facebook dan ngeliat ada kabar duka cita lagi. Baca lebih lanjut

Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

1.jpg

Pemandangan adem. Oleh Riccardo Bresciani

Gue suka mempelajari manusia dan pemikirannya. Melihat laku, keputusan, apalagi sesuatu yang ngga biasa dari orang di sekitar gue, baik teman maupun stranger. Ketika baca artikel tentang bunuh diri, gue pun jadi banyak memikirkan hal itu. Kenapa sih orang bisa terpikir untuk bunuh diri? Kenapa sebagian orang lainnya (seperti gue) ngga sampe berpikir kesana? Apa mungkin masalah gue ngga sebesar mereka? Baca lebih lanjut

Udah tua masih baca komik!

1.jpg

Beberapa hari yang lalu gue dapet tugas antar jemput seorang anak. Di sela-sela antara nganter dan jemput ada gap sekitar 1 jam-an dan gue mencari ide untuk mengisi waktu gap itu. Tugas ada sih, tapi kalo dikerjain sekarang, pas lagi asik-asiknya, pasti gue uda harus jemput. Nanggung (Kita semua tau ini alasan gue aja biar ga ngerjain). Akhirnya terpikir untuk baca komik. Dari segitu banyak komik di dunia, gue memilih baca Dragon Ball lagi. Tadinya mau baca Dragon Ball Super (Sequel nya) karena gue belom baca. Nah, tiap mau nerusin bacaan atau tontonan, biasanya gue tuh ngulang dikit dari yang terakhir gue baca atau tonton. Jadi gue randomlah milih chapter sebelum-sebelum akhir. Dalam sekejap, Sejam berlalu kaya 6,5 menit. Cepet banget. Gue tenggelam dalam serunya cerita Goku dan kawan-kawan melawan Buu gendut.

Kalo di film-film kan tiap orang punya malaikat dan setan di kepalanya ya. Nah, malaikat gue tuh uda geleng-geleng. ”Satu, satu, udah tua masih baca komik!”. Tulisan ini adalah sanggahan gue pada dia. Bahwa muda-tua itu tetep harus baca komik. Baca lebih lanjut