Sepuluh

Ngga kerasa udah satu dekade aja Papa pulang ke sisi Allah SWT. Sepuluh tahun lebih malah sih sebenarnya, karena genapnya itu tanggal 19 Oktober kemarin, tapi karena kelewatan, jadi di pas-in sama ulang tahun doi aja tanggal 28 November. Terbersit mau nulis ”woah 60 tahun dong ya kalau Papa masih ada”, tapi gue ngga begitu suka dengan ”kalau masih ada”. Udah lewat dan udah terjadi, kalau kata Papa dulu: ”Hadapi kenyataan”. Jadinya ngga boleh berandai-andai, apalagi tentang hidup-mati. Baca lebih lanjut

Iklan

Yunus Ibrahim

1

Teman datang, teman pergi
Nama-nama hinggap di hati
Bersama mengukir cerita dan mimpi
Siapa menduga waktu dipanggil yang tak serasi

Udah beberapa bulan terakhir gue absen nulis duka cita di blog gue. Mungkin itu sebuah hal yang baik karena itu berarti ngga ada temen deket atau keluarga gue meninggal dunia. Tapi, kalau gue liat lebih luas lagi dan empati ke orang lain, sebenernya tiap hari di dunia ini ada aja yang meninggal. Baik itu sakit, kecelakaan, bencana alam, perang, atau sebab lainnya. Sampai kemarin malam, gue buka Facebook dan ngeliat ada kabar duka cita lagi. Baca lebih lanjut

Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

1.jpg

Pemandangan adem. Oleh Riccardo Bresciani

Gue suka mempelajari manusia dan pemikirannya. Melihat laku, keputusan, apalagi sesuatu yang ngga biasa dari orang di sekitar gue, baik teman maupun stranger. Ketika baca artikel tentang bunuh diri, gue pun jadi banyak memikirkan hal itu. Kenapa sih orang bisa terpikir untuk bunuh diri? Kenapa sebagian orang lainnya (seperti gue) ngga sampe berpikir kesana? Apa mungkin masalah gue ngga sebesar mereka? Baca lebih lanjut

Udah tua masih baca komik!

1.jpg

Beberapa hari yang lalu gue dapet tugas antar jemput seorang anak. Di sela-sela antara nganter dan jemput ada gap sekitar 1 jam-an dan gue mencari ide untuk mengisi waktu gap itu. Tugas ada sih, tapi kalo dikerjain sekarang, pas lagi asik-asiknya, pasti gue uda harus jemput. Nanggung (Kita semua tau ini alasan gue aja biar ga ngerjain). Akhirnya terpikir untuk baca komik. Dari segitu banyak komik di dunia, gue memilih baca Dragon Ball lagi. Tadinya mau baca Dragon Ball Super (Sequel nya) karena gue belom baca. Nah, tiap mau nerusin bacaan atau tontonan, biasanya gue tuh ngulang dikit dari yang terakhir gue baca atau tonton. Jadi gue randomlah milih chapter sebelum-sebelum akhir. Dalam sekejap, Sejam berlalu kaya 6,5 menit. Cepet banget. Gue tenggelam dalam serunya cerita Goku dan kawan-kawan melawan Buu gendut.

Kalo di film-film kan tiap orang punya malaikat dan setan di kepalanya ya. Nah, malaikat gue tuh uda geleng-geleng. ”Satu, satu, udah tua masih baca komik!”. Tulisan ini adalah sanggahan gue pada dia. Bahwa muda-tua itu tetep harus baca komik. Baca lebih lanjut

5A

85.jpg

Bukan 5A kami, tapi desainnya bagus ya. Oleh Natalka Dmitrova

Beberapa minggu setelah 19 Oktober 2007, Saya memutuskan untuk membuat tulisan rutin setiap tanggal tersebut tiap tahunnya. Memperingati wafatnya ayah Saya. Tahun ini tidak terasa sudah 9 tahun beliau pergi. Banyak sekali yang sudah terjadi sejak 9 tahun lalu. Saking banyaknya, Saya khawatir informasinya akan menutupi, menimpa cetak ingatan Saya tentang beliau. Tahun ini Saya akan menulis tentang kediaman kecil kami di Rawajati, Kalibata. Kediaman petakan berlabel 5A. Baca lebih lanjut

Ulasan Film: Conjuring 2

temp

Conjuring 2 . imdb

Dalam satu kalimat perangkum: lebih bagus daripada Conjuring 1! Ga percaya? Gue juga tadinya skeptis dan menganggap hampir semua film sekuel itu ngga pernah lebih bagus dari yang versi pertamanya. Dari banyak contoh yang ada, gue kecilin ke contoh film horor aja deh. Sinister lebih bagus yang pertama, Resident Evil lebih keren yang pertama, Insidius 2 setara sama yang pertama. Jadi gue berangkat nonton hari ini dengan ekspektasi yang rendah. Kadang emang kalau ekspektasi rendah itu, enak ya rasanya ketika dapetnya lebih. Ternyata puas banget nonton Conjuring 2. Baca lebih lanjut