Yunus Ibrahim

1

Teman datang, teman pergi
Nama-nama hinggap di hati
Bersama mengukir cerita dan mimpi
Siapa menduga waktu dipanggil yang tak serasi

Udah beberapa bulan terakhir gue absen nulis duka cita di blog gue. Mungkin itu sebuah hal yang baik karena itu berarti ngga ada temen deket atau keluarga gue meninggal dunia. Tapi, kalau gue liat lebih luas lagi dan empati ke orang lain, sebenernya tiap hari di dunia ini ada aja yang meninggal. Baik itu sakit, kecelakaan, bencana alam, perang, atau sebab lainnya. Sampai kemarin malam, gue buka Facebook dan ngeliat ada kabar duka cita lagi. Baca lebih lanjut

Iklan

Bunuh Diri dan Sudut Pandang Lain

1.jpg

Pemandangan adem. Oleh Riccardo Bresciani

Gue suka mempelajari manusia dan pemikirannya. Melihat laku, keputusan, apalagi sesuatu yang ngga biasa dari orang di sekitar gue, baik teman maupun stranger. Ketika baca artikel tentang bunuh diri, gue pun jadi banyak memikirkan hal itu. Kenapa sih orang bisa terpikir untuk bunuh diri? Kenapa sebagian orang lainnya (seperti gue) ngga sampe berpikir kesana? Apa mungkin masalah gue ngga sebesar mereka? Baca lebih lanjut

Momen Pengubah Hidup

Setiap orang pasti punya momen pengubah hidup. Peristiwa penting dimana bukan hanya saat itu menjadi penting, tapi juga perasaan yang timbul dan juga efek perubahan setelahnya. Khususnya perubahan positif. Peristiwa penting seperti wisuda, pernikahan memang sudah pasti menjadi momen bersejarah. Tapi gue disini mau berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana, tapi efeknya besar.

Notji

Gue mau cerita tentang gue dan Notji. Notji itu anjing dari temen gue Rona. Sebelumnya gue kasih tau dulu, gue itu sejak kecil takut sama anjing. Selain karena anjing itu diharamkan di Islam, tapi lingkungan tempat gue dibesarkan kayanya memang membentuk impresi kalau anjing itu serem. Kalau ngeliat kita, dia akan selalu ngejar, kalau gonggong berarti dia marah.

Bukan Noci, tapi sejenis

Bukan Noci, tapi sejenis

Baca lebih lanjut

Bangga

277464_002

Kompas/Ingki Rinaldi

Bangga. Satu kata itu mewakili perasaan gue sama temen-temen gue di Jakarta. 1 Januari 2016 pagi ketika banyak orang pulang kerumah setelah malamnya berpesta kembang api, temen-temen gue ini turun ke jalan raya. Jalan raya yang dipenuhi sampah setelah pesta tadi malam. Yang paginya dipenuhi juga dengan petugas-petugas kebersihan. Temen-temen gue ini, membagikan paket sarapan kepada petugas kebersihan. Baca lebih lanjut

The All-Sports Man

Pertama kali gue hidup mandiri diluar kota tanpa kenal sesiapapun didekat gue, itu adalah ketika gue kuliah tahun 2005. Di kampus yang namanya Universitas Utara Malaysia, di Kedah, Malaysia Utara. Enam jam dari Kuala Lumpur, tapi cuma lima belas menit dari Thailand. Nah karena baru pertama kali, ditambah gue jadi satu-satunya orang Indonesia di asrama gue, yang lain orang Malaysia semua, gue gugup dong. Apalagi gue sekamar sama orang Malaysia juga, dan kadang temen-temennya datang ke kamar. Nah tapi ternyata mereka baik. Ada yang suka ngelawak, ada yang diem-diem aja manggut-manggut. Nah ada satu orang yang murah senyum dan setiap ketemu (di asrama ataupun diluar) selalu negor, nepok-nepok bahu dan mengakrabkan diri. Gue inget namanya itu Sham. Baca lebih lanjut