Cerdas Cermat untuk Ahklak

1.jpg

Hormat. Foto dari entrepreneur.com

Makan siang hari ini ada yang berbeda sedikit dari biasanya. Orangnya lebih sedikit, tempatnya juga dirumah salah satu teman kami yang tinggal didekat kampus. Kami bertiga makan dengan santai pada awalnya. Sampai Sari bertanya, ”Tuntutan 212 kemarin itu apa sih?” Tidak, tulisan ini bukan tentang itu kok. Dikarenakan sudah ada 102,302 tulisan lain dengan topik 212. Kemudian saya menjawab dengan apa yang saya tahu. Tapi arah obrolan jadi tentang Indonesia. Dan yang paling keren, bagaimana menjadikannya lebih baik. Disatu titik, Puput bilang ”Pinter banget itu belum tentu sejalan dengan attitude” dan menceritakan temannya yang lulus kuliah dengan sempurna kemudian berakhir dengan terlibat di kasus korupsi. Kami pun berandai-andai sejenak. ”Ada ngga sih, lomba pendidikan tapi nilai moral? Misalnya, seperti cerdas cermat, tapi untuk ahklak” Baca lebih lanjut

Ulasan Film: Conjuring 2

temp

Conjuring 2 . imdb

Dalam satu kalimat perangkum: lebih bagus daripada Conjuring 1! Ga percaya? Gue juga tadinya skeptis dan menganggap hampir semua film sekuel itu ngga pernah lebih bagus dari yang versi pertamanya. Dari banyak contoh yang ada, gue kecilin ke contoh film horor aja deh. Sinister lebih bagus yang pertama, Resident Evil lebih keren yang pertama, Insidius 2 setara sama yang pertama. Jadi gue berangkat nonton hari ini dengan ekspektasi yang rendah. Kadang emang kalau ekspektasi rendah itu, enak ya rasanya ketika dapetnya lebih. Ternyata puas banget nonton Conjuring 2. Baca lebih lanjut

Pertarungan Seimbang dan Tanggung Jawab dalam Teknologi

download

Gue selalu tertarik dengan fair battle. Pertarungan seimbang selalu lebih gue nikmati daripada yang ngga seimbang. Misalnya Barcelona lawan Real Madrid, atau Bayern Munchen melawan Juventus kemarin yang sampai menit terakhir juga serunya kebangetan. Lebih enak nonton yang seimbang kaya Songoku vs Bezita daripada yang timpang, misalnya Songoku vs Videl. Bukan cuma nonton, kalau main pun, gue berusaha untuk seimbang. Kalo pas lagi main futsal gue merasa ga imbang, gue biasanya pindah. Baca lebih lanjut

Menunaikan Janji

janji

janji

Hidup itu tentang mimpi, berusaha mengejarnya, kemudian mengikhlaskan hasil akhirnya.

Gue dibesarkan oleh seorang ayah yang ambisius. Dia punya cita-cita menyekolahkan gue diluar negeri. Sebagai anak cowo pertama, gue merasa dia mengganggap gue sebagai produk yang dia mau sukseskan, lalu dia bisa berbangga akhirnya. Yah seperti ayah yang lain mungkin ya. Tuntut ilmu ke negeri cina, mungkin pepatah itu cocok dengan ambisi dia tentang itu. Dia suka jika anaknya belajar dan sekolah di tempat yang jauh. Karena ekonomi kami tidak terlalu berlebihan, dia harus berusaha keras membanting tulang supaya cita-citanya itu bisa tercapai.

” Kuliah kamu di Amerika ya. ” kata beliau ke gue, ketika kami membicarakan kuliah S1 dulu.

” Tapi uangnya kan ga cukup, pap? ” kata gue. Pap adalah panggilan gue ke dia.

” Kalau perlu papa bisa ngutang. Kerja sampe berdarah juga bisa. Yang penting kamu bisa sekolah yang bagus.” Katanya lagi, dengan tatapan mata yang khusus yang dia punya, se

rius tapi tidak terlalu kaku. Disini gue takut. Bukan takut sekolah diluar, tapi takut dia beneran memaksakan kerja mati-matian.

Ya, kata sekolah, pendidikan untuk anak, itu emang jadi nomor satu buat beliau. Sekolah yang dia maksud bukan cuma institusinya. Tapi lebih banyak ke persaingan dengan orang pintar lain, dan belajar hidup mandiri, belajar cari uang dan bertahan hidup, beradaptasi dengan kesulitan. Itu sekolah menurut dia.

” Jaman papa dulu sih masih mending tu, papa saingan sama anak orang kaya tapi ngga pintar. kita pintar dikit, uda aman. Tapi jaman kamu akan berat. Saingan kamu nanti anak orang kaya yang pintar. Kamu butuh lebih dari kepintaran” , kata beliau.

Balik ke kuliah di Amerika, gue setuju sama konsep dia soal sekolah diluar, tapi ke amerika akan bikin dia menderita. Gue mengajukan satu janji,

”Kalau S1 nya ditempat yang lebih murah dulu, lalu nanti S2 nya baru mengejar ke amerika atau eropa, gimana?”

Dengan pertimbangan, mungkin nanti S2 bisa dapat beasiswa, atau mungkin ekonomi kami jadi lebih baik. Alhamdulillah beliau setuju. Win win solution. Gue pun kuliah di Malaysia, dengan biaya kuliah yang ternyata tidak mahal (gue kuliah di kampus yang jauh banget, negeri, biaya kuliah satu semester hanya 4 juta per-semester saat itu, sudah termasuk asrama). Tapi gue punya janji hidup ke papa.

Hidup itu tentang mimpi, berusaha mengejarnya, kemudian mengikhlaskan hasil akhirnya.

Oktober tahun 2007 silam, ketika gue masih semester 6, Papa menghembuskan nafas terakhirnya ketika gue masih menunggu boarding pesawat menuju Jakarta. Semua mimpi gue yang melibatkan beliau serasa pupus. ”Gimana gue mau buktiin gue bisa menunaikan janji gue ? Gimana mau liatin ke dia pernikahan gue ? Siapa yang nanti namain anak gue ?”. Pertanyaan-pertanyaan itu kaya nampar nampar gue ketika gue lagi menyaksikan tanah-tanah disekop dan dibuang ke dalam liang kuburnya.

Yes, ikhlas itu kata yang berat dan bermakna super banget. Gue belajar sedikit tentangnya dalam kejadian ini. Selalu ada hal baik di setiap kejadian kurang baik yang terjadi. Gue belajar mengikhlaskan kepergian beliau.

”Sekarang uda ga perlu banting tulang lagi ya pap. Terima kasih atas ilmunya, giliran Atu yang sekarang berjuang”, kata gue ke foto beliau yang selalu gue bawa di dompet.

Mimpi gue sejak kepergian beliau meningkat beberapa kali lipat. Kebiasaan beliau yang merayakan ulang tahun di panti asuhan, gue bikin sebagai hobi baru gue, berbakti sosial kepada mereka yang kurang mampu. Sisi nasionalisme papa, gue gandakan dan cita-cita baru gue yaitu mau membangun Indonesia, si raksasa yang tertidur. Gue juga mau suatu hari nanti bisa membangun masjid dan sekolah. Mau me-naik-haji-kan Mama. Dan gue ngga akan putus asa di janji gue tentang kuliah S2 di Amerika atau Eropa.

Januari lalu gue mencoba LPDP tapi gagal. Lalu beasiswa menkominfo gagal juga. Tapi bukan Satucahaya Langit kalau langsung menyerah. Akhirnya bulan April diterima di kampus KTH Swedia, dan Juninya mendapatkan beasiswa LPDP. Agustus ini akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita cantik yang baik bernama Suci. Ketiga kejutan baik itu gue anggap bonus dan titipan dari Allah. Dengan rizki sebanyak ini, gue juga harus membantu orang lebih banyak lagi.

Ekspresi Super

ekspresi

ekspresi

Disore selasa yang tenang ini gue lagi enak enak ngemil sambil scrolling sebentar di facebook, eh ada artikel ini dari suatu media berita online. Gue mengamati sebentar foto ini. Diambil oleh fotografer Osman Sagirli. Ceritanya si anak di Suriah ini mengangkat tangan karena mengira kamera ini adalah senjata, jadi refleks ia mengangkat tangannya.

Gue bukan fotografer pro tapi suka dengan fotografi ekspresi manusia. Bukan pengajar anak secara resmi tapi dari minggu ke minggu berurusan dengan anak-anak kecil juga. Foto ini nyayat nyayat dari banyak arah. Gue membayangkan ranah disana yang sudah terlalu sering dan sudah kepalang terbiasa dengan senjata, suara senapan, teriakan, dentuman, dan tertodong senjata adalah hal yang kalau di Jakarta seperti bertemu pengamen di warung, sering sekali. Setidaknya 4 kali sehari.

Dalam raut wajahnya juga terasa kesedihan. “Jangan tembak gue” , gue bayangin wajahnya ngomong itu. Atau “Gue ngga bersalah dan berniat jahat”, sambil angkat tangan. Ah gue soktau banget.

Kita beneran harus bersyukur di tempat kita tidak ada hal sesulit disana. Dan apa ya yang kita bisa untuk bantu bantu sedikit? uang? adopsi anak-anak disana?