senja sang nelayan

sebelum terbenam

sebelum terbenam

angin alpa di titik bumi itu
meninggalkan perahu tak bergerak
tidak juga isinya
sang nelayan dengan topi dan tongkat pancingnya
gambar atau nyata?

garis horison melintang menjadi sahabatnya setiap hari
melihat nelayan yang berdiam ketika ikan ikan dibawahnya menari kegirangan
apa benar ada kail di ujung pancingannya?
nafasnya pun sulit didengar
mungkin angin diam mengikuti kebiasaan sang nelayan

tunggu dan menunggu
dari biru sampai jingga
matahari mulai bosan
lalu dengan satu gerakan saja matahari tertutup badan seekor ikan yang melambung

nona kupu-kupu

kupu kupu

kupu kupu

pesawat membawamu menjauh lagi
kata nona yang tertidur bersama kupu-kupu
rasa ingin bertemu tidak padam-padam
bersama tuts piano yang terus saja dimainkan

dinyanyikan tepat didepan wajah
mungkin basah ini karena air hujan
kata pemetik gitar yang tua dan tidak laku
apa kamu menyesali malam tadi?

benih rasa sudah menjadi hutan
oksigennya terlalu banyak hingga keluar-keluar dari tubuh
mengernyitkan alis dan memberatkan mata
mengepalkan tangan tapi hanya menggenggam hampa

berjalan lurus dan sudah sangat jauh tapi tetap kembali ke sini juga
ke taman kupu kupu milik si nona
ke kaca besar yang merefleksikan satu tubuh
satu tubuh setengah jiwa

Duduk di Awan

Manusia datang dan pergi. Tapi kenangannya tak hilang. Seperti buku yang kosong lalu ditulisi cerita.

Hari pertama disekolah atau lingkungan serupa, pasti akan membingungkan. Bertemu lebih dari 10 orang dalam jam pertama, bersalaman dan mencoba mengingat nama. Biasanya akan gagal. Paling oke 4 nama yang diingat.

Disekolah menengah yang berwarna latar putih biru itu saya datang seperti anak-anak lain. Belasan tahun lalu. Hari pertama, minggu pertama, bulan pertama, lalu tahun pertama. Teman yang paling ramah, guru yang paling galak, anak yang paling cantik, anak yang paling nakal. Gelar akan diberikan.

Dari sekian jumlah teman, Vidya adalah salah satunya. Ingatan jauh saya mengingat Vidya Putriyanti, kalau tidak salah. Dipanggil Vidy. Cewe cantik yang tidak sombong dan pemilih dalam berteman. Sepertinya pada kelas 2 kami ada dikelas yang sama. Berhuruf depan ’V’ membuat Vidy dipanggil maju di urutan urutan akhir, setelah huruf depan saya ’S’. Dia juga ceria di hampir semua waktu. Suaranya tergolong lantang untuk perempuan. Badannya juga sepertinya diatas rata-rata anak SMP pada saat itu. Jika diperhatikan dengan sekilas tapi tidak serius, Vidy sedikit terlihat seperti laki-laki.

vidya putri

vidya putri

Kami memang tidak begitu akrab. Hanya obrolan-obrolan kecil dan mungkin satu angkutan umum sepulang sekolah. Tapi setiap bertemu, senyumnya itu membekas. Bergurau sedikit, lalu tertawa. Setelah lulus SMP, kami hanya bertemu beberapa kali di pernikahan teman, di beberapa mall juga. Misalnya sekitar awal 2003, di Pointbreak Blok M Plaza. Pernah juga di Senayan City tapi saya kurang ingat kapan tahunnya.

Jika tahun lalu saya ditanya kira kira Vidy akan tumbuh menjadi orang dewasa yang seperti apa, mungkin saya akan menjawab : orang dewasa yang baik dan menyenangkan banyak orang. Itu hanya kira kira memang, berdasarkan kenalan sejak kelas 2 SMP hingga terakhir kali bertemu. Tapi itu yang saya yakini. Pasti dia akan mendapat pasangan yang baik, berkeluarga, dan dua anak. Dan mungkin kami akan bertemu lagi di reuni besar SMP.

Kata ’Mungkin’ itu sekarang sirna. Vidya baru saja pergi ke tempat yang jauh.

Nafas terasa berat. Detak jantung menjadi cepat. Ingatan dipanggil kembali untuk mengingatnya. Sedih itu pasti. Mungkin tidak mudah menerimanya.

Tapi takdir menjadi hak Allah. Jiwa raga kita pun juga begitu.

Vidy mungkin memang pergi, tapi tidak ceritanya. Membuka beberapa foto di halaman sosial medianya, begitu menyenangkan. Wajahnya tidak berubah, masih cantik sekali seperti waktu itu. Senyum seperti itu pasti hanya dia yang punya.

Sedihnya jangan lama. Karena kita nanti pasti akan kembali juga.

Duduk di awan
Dimana ditempatkannya mesin pengatur angin
Sekejap berhembus
Sedetik kemudian tidak hadir sedikitpun
Satu waktu kencang
Lalu ketenangan kembali

Dimana pula disimpannya buku jadwal datang dan kembali
Manusia dari dan menuju tanah lagi
Sekejap tertawa di tepi pantai
Sedetik kemudian sudah duduk di awan
Tanpa kabar tanpa pertanda

Seperti bumi dengan segala keajaiban
Begitu juga manusia ciptaan-Nya
Indah dan melekatkan kenangan pada jiwa lain
Harum cerita dan raga
Vidya adalah salah satunya

Sampai bertemu di langit

Duduk Berdiri Berjalan Berlari

sangsaka

sangsaka

Berbaju merah bercelana putih
Berteriak sekuat tenaga beberapa puluh kali
Merdeka, katanya
Juga kata dua puluh ribu orang disekitarnya
Raungan menggema sampai memiriskan dinding yang diam menonton dari jauh
Dinding yang tertawa keras setelah lapangan itu kosong oleh manusia
Tapi penuh oleh sampah

Duduk membaca koran di kursi belakang mobil hitam super keren
Terhormat, katanya
Berjas hitam lengkap dengan dasi dan sepatu termahal di kota
Manusia manusia lain mengenal namanya
Tangan demi tangan mencoba meraihnya untuk bersalaman
Berjalan berderap diatas lantai rumah sakit yang dibersihkan terlebih dahulu
Lantai yang senyum sinis ketika dia memotong antrian

Berseragam sekolah tapi menulis di jembatan umum
Memakai pakaian putih suci tapi menyebut nama tuhannya sambil merusak
Penegak hukum membuat slogan yang tidak bisa ditepatinya sendiri
Anak bangsa tak ingat lagi sejarahnya
Sang Garuda tak bisa lagi mendongak gagah seperti tahun 45
Pendatang akan pulang kembali dan cendikia asli akan berpikir lagi

Seperti dahulu baru bisa duduk
lalu berdiri
lalu berjalan
lalu berlari
kemudian duduk kembali ketika sudah pandai berlari
duduk selamanya sambil memenuhi sungai dengan sampah
rebah tengkurap sambil meminta makanan dan bukan membuatnya sendiri
mengeluh lebih banyak dari bersyukur
bersyukur tapi hanya diucap saja

itu merdeka?

image from http://th04.deviantart.net

Perjalanan dari bumi ke langit

Membawa jari menembus batas sadar dua manusia

Sentuhan abadi hanya mereka yang mengerti

Nada dansa berirama menemani satu dan dua

Dan tak ada yang menghentikan mereka

 

Malaikat kembar tersenyum membatin

Tali temali takdir bekerja tak berpeluh

“Menari kita di ujung matahari pagi siang malam”, katanya

Lalu tak ada yang menghentikan mereka

 

Telaga tak berujung bernama bahagia

Awan warna warni menjadi pengiring

Dalam perjalanan cinta dari bumi sampai ke langit

Kali ini pun, tak ada yang menghentikan mereka

Tak ada yang mau, tak ada yang bisa

 

SCL

nb : disuruh bikin puisi sama kak Jamima :p

gambar diambil dari : http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/18/ffk-selembar-daun-kering-untuk-pengirim-bom/